TIPS
MENGATASI KEBINGUNGAN DALAM MENENTUKAN TEMA PENELITIAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
Saya
seringkali dihubungi oleh mahasiswa, baik S1 ataupun S2 yang merasa kebingungan
untuk menentukan tema yang akan dijadikan sebagai objek kajian. Yang dimaksud
dengan tema di sini yaitu ide atau gagasan utama yang selanjutnya akan
dikembangkan dalam penelitian.
Lalu
bagaimana agar mencari tema atau menentukan tema dalam penelitian Bahasa dan
sastra Arab terasa mudah dan menyenangkan?
Ada
2 (dua) cara yang bisa digunakan dalam mencari atau menentukan Tema penelitian:
Cara yang pertama, mencari terlebih dahulu korpus atau teks-teks bahasa
dan sastra yang akan diteliti lalu menentukan focus kajian berdasarkan hasil
bacaan pada teks-teks tersebut. Artinya ketika membaca karya sastra (misalkan
novel atau syair), mahasiswa harus dalam keadaan kosong belum membawa konsep
atau gagasan apapun. Setelah teks Bahasa atau sastra tersebut selesai dibaca
(bisa menggunakan metode baca cepat, asalkan mampu memahami pesan yang terdapat
dalam teks), selanjutnya membaca dan memahami aspek yang paling menonjol dalam
karya tersebut. Artinya membaca dengan seksama pesan moral (pesan yang ingin
disampaikan oleh penulis) melalui karyanya. Sebagai contoh, ketika membaca
sebuah novel maka pastikan apa sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan kepada
pembaca. Contoh: Penulis ingin menyampaikan tentang cinta, perlawanan kaum
perempuan atas ketidakadilan, politik, sosial, pendidikan, agama, alam dan lainnya. Demikian pula
halnya ketika membaca puisi. Ketika membaca puisi sebaiknya diterjemahkan
terlebih dahulu ke dalam Bahasa Indonesia teks syairnya.
Cara yang Kedua adalah kebalikan dari cara yang pertama, yaitu
menentukan dulu focus kajian yang akan dijadikan sebagai objek penelitian, dan
tidak focus terlebih dahulu pada korpus. Sebagai contoh, ketika mahasiswa
sudah memiliki kecenderungan tersendiri di bidang politik, sosial, pendidikan,
agama, feminisme, gaya Bahasa, dan lainnya. Artinya mahasiswa tersebut sudah
memiliki konsep dan focus tersendiri sebelum menemukan teks Bahasa dan sastra
yang akan dikaji. Jika seperti ini maka yang dilakukan mahasiswa adalah mencari
korpus yang tepat untuk dikaji yang sesuai dengan orientasinya. Korpus harus
menyesuaikan dengan konsep yang sudah dimilikinya.
Dari
kedua cara tersebut mana yang kira-kira lebih enak? Tergantung pada kesiapan
masing-masing. Jika masih kosong atau tidak memiliki konspe apapun, sebaiknya
mencari terlebih dahulu korpus lalu membaca dan memahaminya dengan baik serta
menangkap pesan yang ingin disampaikan pengarang. Namun jika sudah memiliki
konsep yang jelas, sebaiknya mencari teks yang tepat dengan konspenya tersebut.
Metode adalah tahapan akhir. Kapan menentukan
metode analisis? Metode analisis ditentukan setelah memastikan korpus dan focus
penelitian. Karena satu korpus umumnya bisa diteliti dari berbagai aspek.
Contoh, satu novel bisa dikaji melalui analisis, sosiologi sastra, semiotic, feminism,
wacana, pragmatic, strukturalis, balagahdan lainnya. Oleh karena itu, perlu
menelaah terlebih dahulu apa saja yang paling menonjol dari teks tersebut.
Yang dimaksud Korpus. Korpus adalah bahan
yang akan dijadikan sebagai objek kajian. Bisa dalam bentuk karya sastra atau
non-sastra (fiksi atau non-fiksi). Karya sastra umumnya berupa prosa (natsr)
ataupun puisi (syi’r). Saat ini masuk juga karya seni lainnya yang bisa
diteliti yaitu drama (masrahiyah) ataupun film, dengan syarat tentu saja yang
di dalamnya menggunakan media Bahasa. Karya sastra prosa (fiksi) biasanya dalam
bentuk novel (riwayah) atau cerita pendek (qisah qasirah). Sedangkan prosa
non-fiksi seperti pidato, peribahasa, kata-kata hikmah, berita, dan lainnya.
masya allah ust, syukton atas wawasanya๐
BalasHapusWeh Hasan..Syukron san
Hapus